Selasa, 10 Oktober 2017

Camera

imwwages.jpg                                                
CAMERA
By: Cherry Alarik











“ 1…2…3… ok” teriak Reza, aku yang jadi objeknya Cuma nahan tawa melihat sikap ke kanak-kanakan teman satu komunitas ku itu. Yah aku dan Reza udah hampir 2 tahun bergabung di komunitas itu, Reza benar-benar membuat hari-hariku lebih berwarna, menyenangkan dan indah, hampir setiap hari aku tertawa lepas melihat tingkahnya atau aku hanya bisa nahan tawa seperti yang ku lakukan saat ini.

“ kau lihat ini. Kau sangat jelek di foto ini, ekpresi mu benar-benar jelek” ocehnya yang sekarang duduk di sampingku di bawah pohon yang rindang. “ seharusnya kau berpose harus nampak lebih menarik” sambungnya sambil melihat hasil karyanya di camera.
“ aisy bocah ini. Apa tidak bisa sehari saja kau tak menggangguku ?” tanyakku dengan ekspresi kesal, lalu pergi meninggalkan Reza.

“ hey, bocah cerewet tunggu dong”

*    *

Yura Pov:
Matahari kembali mengepakkan sinar hangat nan cerahnya untuk menyapa cucu Adam dan Hawa beraktifitas. Aku Yura Nanira juga sudah siap untuk melakukan aktifitas ku, hari ini aku dan rekan-rekan komunitas fotografer akan study tour ke sebuah desa terpencil namun memiliki panorama yang sangat indah juga beberapa budaya masyarakatnya yang sangat menarik, sungguh sayang kalau aku melewatkan acara ini.

Untuk tiba di kampus dengan tepat waktu tak sulit bagiku, karena dari rumahku dan kampus hanya butuh waktu 10 menit. Setelah semuanya berkumpul, kami pun siap berangkat untuk berpetualang di desa Pante Karya.
“ yang aku dengar, walaupun desa itu termasuk desa terpencil masyarakatnya udah modern loh” papar Nada yang merasa persepsi kami tentang desa Pante Karya salah.

“ tapi tempatnya indahkan? Dan budayanya juga masih di jalanin kan?”tanyak Reza yang posisinyaduduk di sampingku sekarang.

“ kurasa masih” jawab Nada, aku dan teman-teman lain hanya tersenyum lalu kembali melanjutkan aktifitas kami.

*    *
1 minggu kami rasa cukup menghabiskan waktu di Pante Karya, waktu libur semesterpun sudah hampir selesai, keputusan untuk pulang memang kurasa tepat. Sebelum pulang kami mengadakan acara nonton bersama walaupun dengan In – focus. Semua nampak sangat menikmati acara nonter bersama itu. Kami juga memutar film dokumenmeter yang kami buat saat kami berada di sini.
“ok hari aku punya sesuatu special untuk ditampilkan” ku tersenyum kearah Reza yang tengah berbicara didepan.
Ku amati gerak-geriknya yang mulai mengotak-atik laptop yang ada di meja, beberapa teman komunitas juga terlihat mengkerutkan keningnya. Mungkin mereka sama halnya dengan ku penasaran apa yang akan dilakukan oleh Reza.
‘Redy? Go” itulah tulisan yang pertama kali aku baca.
‘saat pertama kali aku melihatnya  ada rasa dari diriku yang sangat bahagia, senyumnya, tawanya, tatapan membuat aku sempurna’ aku tersenyum membaca kata-kata itu.
‘untukmu’
Mataku membulat sempurna saat ku lihat gambarku ada dilayara, ku dengar suara sorakan mengema. Ku tatap Reza yang masih sibuk dengan laptop didepannya, sekilas ia melihatku lalu menyuruhku untuk menatap layar kembali.
Seperti keinginan Reza aku melihat gambar-gambar ku dilayar, kadang-kadang senyum manis terukir di bibirku saat melihat gambar aneh ku. Entah kenapa ada rasa bahagia yang menjalar diselurih tubuhku saat melihatnya.
‘Aku’ sebuah tulisan yang di pegang oleh anak kecil yang ada ki desa pante Karya.
‘Cinta’
‘kamu’ kembali suara sorakan mengema.
‘Will’
‘you’
                ‘Married’
                ‘Me’
                ‘Yura Nanira’ gambar terakhir ialah Reza yang tengah berlutut dan memegang sebuah cincin, dan lagi-lagi suara sorakan terdengar.
                “terima-terima-terima” aku tersenyum malu mendengar suara terikan itu dan aku sangat gugup saat melihat Reza yang tengah berlutut di depan.
                “bersediahkan kamu menikah denganku?” suara bass Reza mengusik pendengaranku.
                “kenapa bukan kekasih?” setelah kukumpulkan keberanian ku, aku pun mulai buka suara.
                “aku terlalu serius dengan mu, dan aku rasa perkenalan kita sudah cukup selama ini. Jadi aku ingin menjadikan kamu istriku” ujar Reza yakin.
                “terima-terima-terima”
                “hmm, aku setuju menikah denganmu jika orang tuaku setuju” jawabku tersenyum malu.
                “baiklah” kulihat Reza yang bangkit dari posisinya dan kembali berjalan kearah laptop.
                ‘Jawabannya’
                “anak ku sayang jika kamu yakin dengan pemuda ini, terimalah dia Ibu sudah bisa terima dia. Dan Ibu yakin Ayahmu yang sudah bahagia di Surga sana juga menerimanya”
                “bagaimana Yura Nanira, bersediahkah kau menikah dengaku?”
                “khem, aku gak tau kapan kau melakukan semua itu, tapi rasanya sebagian diriku sangat bahagia dengan semua ini. Dan aku menerima kamu sebagai calon suamiku”                “yeeee” suara sorakan kembali terdengar, dan aku tersenyum malu karenanya.
                                               
                                                                                                                End

                                                                                                

Jumat, 09 Juni 2017

Sembuyi Dari Cinta

Zifa Melani seorang gadis yang selalu mengamati sang pujaan hatinya di bukit yang ia sebut ‘bukit tursina’. Semejak bergabung di salah satu Universitas ternama di kotanya, mengamati sang Kakak senior adalah hobby barunya. Zifa selalu duduk di bukit yang tidak tinggi itu sambil mengamati kegiatan Fahrul Arifin. Zifa sering memungkiri kalau ia jatuh cinta sama Fahrul, namun kebenaran itu tidak dapat ia sembunyikan selamanya dari teman – teman yang selalu ada untuknya.
            Zifa terlalu takut mengakui cintanya ia takut jika harus merasakan sakit, dia memilih memendam perasaan itu dan mengamati Fahrul diam – diam. Dia selalu berusaha bersikap santai saat ia bertatapan atau berbicara dengan Fahrul. Walaupun sulit untuknya Zifa selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk menyebunyikan perasaan itu.
            Zifa tau mencintai Fahrul adalah kesalahan yang besar, Fahrul sosok seorang Mahasiswa yang bisa di katakan sempurna. Ia ketua Himpunan jurusan Ilmu Komunikasi, pintar, selalu berperstasi dan masih banyak hal yang cocok mendiskripsikan Fahrul. Sedangkan Zifa hanyalah Mahasiswa baru yang tidak banyak dikenal orang, bahkan teman satu angkatannya saja belum semua mengetahui nama Zifa.
            “Fa kayak serius banget?” tanyak Wirda yang menatap Zifa dengan tatapan serius.
            “gak ada yang istimewa” respon Zifa santai
            “benarkah?” tanyak Wirda gak yakin dengan jawab santai Zifa.
            “ya ampun Wir loe kayak gak tau aja teman kita ini, kalau ia duduk di bukit ini ya pasti dia mengamati Kak Fahrul yang berada di LEB” tanggap Liska yang tengah mengotak – atik ponsel gengamnya.
            “ceritanya penggagum rahasia” tanggap Misna yang tengah menyantap somaynya.
            “eh Kak Fahrul kok menuju kesini?” tanyak Zifa panic.
            Zifa yang melihat langkah Fahrul menuju kearah tempat mereka berada merasa panic, tapi teman – temannya sangat santai. Langkah Fahrul makin mendekat, Zifa menarik nafas lalu berusaha bersikap sesantai mungkin.
            “hay, boleh berbicara sebentar?” tanyak Fahrul yang sudah berada di depan mereka.
            “iya memang Kakak mau bicara apa?” Zifa bertanyak balik dengan sikap biasa, dia dapat menyebuyikan perasaan itu dengan sempurna.
            ‘Wahyu bilang ni cewek selalu mengamiti gue, kok dia biasa aja gak ada kesan kalau ia menyukai gue’ kata batin Fahrul.
            “hmm tolong informasikan pada teman unit kalian kalau jurusan kita mengadakan pertemuan di aula hari Senin membahas tentang konsentrasi yang akan kalian ambil” kata Fahrul tanpa menatap Zifa yang jelas – jelas ada di depannya.
            “baik” jawab 4 sekawan itu serentak.
            Mendengar jawaban itu Fahrul tersenyum lalu pamitan untuk balik ke LEB, tapi pikirannya terus tertuju pada Zifa. Melihat tingakah Fahrul sekarang sepertinya ia diam – diam mencintai Zifa kerena terpengaruh cerita Wahyu.
            “Zifa Melani” gumam Fahrul dan menarik nafas berat saat mengingat gadis itu.
~Ooo~
            Hari senin yang di maksud Fahrul pun tiba, semua anak Ilmu Komunikasi angkatan 2015 memenuhi aula FISIP. Diam – diam Zifa dan Fahrul ternyata saling mengamati tapi sayang keduanya gak ada yang sadar. Walaupun mungkin teman – teman mereka melihatnya kedua ‘makhluk’ itu gak akan percaya.
            Zifa mendengar dengan seksama penjelasan Fahrul tentang konsetrasi Jurnalistik kerena Zifa tertarik dengan jurusa itu, ini semua bukan kerena Fahrul tapi benar – benar tulus dari hatinya. Pandangan Zifa kali ini juga tidak seperti biasanya, pandangan ini lebih menujukan kalau Zifa sedang menyimak penjelasan Fahrul bukan wajahnya atau gerak geriknya seperti yang ia lakukan seperti biasanya.
            ‘dia gak tertarik sama gue’ simpul batin Fahrul saat melihat tatapan Zifa, bahkan Zifa gak sadar kalau Fahrul memperhatikannya.
            Selesai dengan penejelasan ke 3 konsetrasi kini giliran menentukan pilihan, Zifa bangkit dari duduknya dan mengambil kertas itu lalu menulis namanya.
            “Kak!” seru Zifa pada Fahrul yang memang berada di sampingnya.
            “kalau kita telah menulis nama kita disini berarti saat pembagian kelas kita langsung masuk kekonstrasi yang kita pilihkan gak ada perubahan lagi?” tanyak Zifa menatap Fahrul.
            “iya” jawab Fahrul singkat tanpa lepas dari ponsel canggihnya.
            ‘apa dengan sikap ini bisa di katakan ia mulai tertarik pada ku?’ tanyak batin Zifa kecewa, lalu langsung pergi meninggalkan Fahrul. Tanpa di suruh siapan pun dengan reflexs Fahrul melihat kepergian Zifa dengan sedih.
            “wah loe mulai suka sama tu cewek ya” tanyak Wahyu yang ikut melihat kepergian Zifa.
            “gak” jawab Fahrul singkat dan pergi.
            “loe suka dia, begitu juga gue tapi dia juga menyukai loe, huff bodoh” oceh Wahyu sedih dan juga ikut meninggalkan tempat itu.
            Perasaan cinta yang disembuyikan oleh Zifa dan Fahrul tanpa mereka sadari membuat Wahyu dalam masalah besar. Wahyu yang diam – diam mempunyai hobby baru yaitu menangkap basah Zifa mengamati Fahrul malah menyukai Zifa. Banar kata orang perasaan cinta itu tidak bisa di control, karena perasaan itu akan tumbuh begitu saja tanpa mau tau dimana siapa dan kapan. Siap jatuh cinta siap merasakan sakit.
~Ooo~
            Ke esokan harinya, Zifa tengah duduk melamun dan menunggu kedatangan teman – temannya, tapi ia malah di kagetkan dengan kehadiran Wahyu. Wahyu menyapa Zifa dengan ramah, lalau duduk di meja yang sama dengan Zifa. Keduanya bercerita banyak hal hingga cerita itu tertuju pada permasalahannya dengan Fahrul.
            Wahyu mengatakan kalau ia dapat merasakan cinta Zifa yang begitu besar pada Fahrul, begitu juga sebaliknya. Bukannya percaya dengan cerita Wahyu, Zifa malah tertawa keras ia menganggap hal itu tidak mungkin sama sekali.
            “hmm Kak Wahyu mungkin benar mengatakan kalau aku menyukai Kak Fahrul tapi Kakak salah kalau bilang aku cinta sama dia. Dan apa? Kak Fahrul mencintai ku, apa Kakak serius ahhahahaha”
            “terserah kamu percaya atau enggak, kamu tau enggak bahkan Kakak menyukai kamu”
            “tau. Kalau Kakak gak menyukai ku Kakak gak akan mau berteman dengan ku, seperti Zifa juga menyukai Kakak” jujur Zifa dengan senyum manisnya.
            ‘tapi Kakak menyukaimu bukan seperti kamu menyukai Kakak” kata batin Wahyu lirih.
            Tengah asyik mengobrol, Wirda, Liska, dan Misna datang ikut bergabung. Mereka berlima terlihat sangat akrab, sesekali Wahyu kenak marah dari keempat gadis itu karena sibuk dengan ponselnya. Katanya sih lagi kirim pesan untuk kawan kalau ia lagi disini, para gadis itu pun memakluminya. Dan teman Wahyu katanya sebentar lagi akan datang, benar saja tanpa perlu menunggu lama sosok teman itu datang yang tak lain adalah Fahrul Arifin sosok yang sebanarnya lagi di hindari Zifa.
            “eh kalian juga ada disini?” tanyak Fahrul ikut bergabung.
            Setelah kehadiran Fahrul suasana nampaknya berubah, Zifa lebih banyak diam dari yang tadi dan ia sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Fahrul juga gak jauh bedanya, jika di tanyak maka ia akan menjawab dengan jawaban simple. Wahyu dan ketiga gadis yang berteman dengan Zifa saling memandang keduanya bergantian.
            “cukup” kata Wahyu tiba – tiba dan bangkit dari duduknya.
            “apanya yang cukup?” tanyak Fahrul memandang Wahyu.
            “kalian berdua cukup jadi orang lain, sekarang gue mohon kalian jadi lah diri sendiri yang satu bersikap cuek sibuk dengan ponsel untuk menyembuyikan rasa cinta dan yang satu lagi tiba – tiba jadi pendiam dan saat orang yang ia cintai ada di hadapannya malah bersikap biasa berusaha menutup rasa cinta, gue mohon cukup ber pura – pura” kata Wahyu panjang lebar kedua makhluk yang saling mencintai itu hanya diam.
            “Zifa kamu diam – diam mengamati Fahrul dan kamu mencintainya. Dan loe Fahrul semejak loe tau Zifa memperhatikan loe bukankah rasa cinta itu mulai timbul hmm loe menyembuyikan rasa cinta loe karena gak menangkap basah Zifa mengamati loe, kalian berdua bodoh. Kalau memang cinta tinggal bilang aja tunjukin kalau cinta jangan malah saat kalian berhadapan gini malah jadi orang lain” sambung Wahyu kesal, lalu meranjak pergi.
            Setelah kepergian Wahyu suasana malah jadi sunyi, seluruh orang di kantin memperhatiakan mereka. Music yang tadi di mainkan untuk menghibur para pengunjung malah di matikan. Zifa dan Fahrul saling memandang, pandangan yang berebeda dari baisanya.
            “Zifa” panggil Fahrul dan mulai membuka pembicaraan, Zifa menatap mata Fahrul.
            “apa yang di katakana Wahyu kalau aku mulai menyukai kamu itu semua gak__” perkataan Fahrul mengantung dia memandang Zifa yang ada dihadapannya
“gak benarkan” perkataan Fahrul yang mengantung itu malah di lanjutkan Zifa.
            “bukan, gak salah lagi kalau aku mulai menyukai kamu, tapi aku gak bisa menemukan cinta itu dari kamu bahkan saat pembicaraan konsetrasi aku memperhatikan kamu tapi kamu serius menyimak penjelasan Kakak”
            “ya Zifa serius setengah, setengah lagi Zifa berhayal tentang Kaka” jujur Zifa malu, yang ikut melihat adegan itu malah BAPER sendiri.
            “Zifa mulai sekarang buka muka palsu itu saat sama Kakak tunjukan kalau kamu menyukai Kakak, dan Kakak juga kan melakukan hal itu. kita lepaskan yang palsu dan mari mulai yang baru. Zifa Melani bersediakah kau menjadi kekasih ku” ucapan Fahrul itu bukan hanya membuat Zifa yang tegang tapi juga seluruh pengunjung kantin.
            “iya aku mau jadi kekasih dari Fahrul Arifin” keduanya tersenyum bahagia, dan yang lain menepuk tanggan ikut bahagia.
            Di luar kantin ternyata Wahyu melihat adegan itu dengan perasaan campur aduk antara bahagia dan sedih melihat mereka jadian. Liska yang tengah ikut bahagia tak sengaja menangkap wajah sedih Wahyu, ia keluar dan menghampiri Wahyu.
            “hey”
            “hay”
            “hmm Kakak baik?”
            “hmm Kakak bilang pada mereka harus jadi diri sendiri dan mengungkap kan rasa cinta mereka, tapi Kakak menyembuyikan rasa cinta Kakak untuk Zifa” perkataan Liska membuat Wahyu menarik sudut bibirnya dan membentuk sebuah senyum yang manis.
            “ya Kakak memakek topeng untuk kebahagian mereka, mereka saling mencintai Kakak akan mengacaukan semuanya kalau perasaan Kakak ini di ketahui, Kakak harap kamu gak bocor”
            “tenang aja Liska Riana tempat menyimpan rahasia terbaik” kata Liska tersenyum bahagia.
            “ok Kakak percaya, kamu mau ikut Kakak pergi dari tempat ini?” Liska menganggukan kepalanya untuk memberi jawaban pada Wahyu.
            ‘ya tempat menyimpan rahasia yang baik, bahkan Kakak gak sadarkan kalau selama ini aku memakek topeng untuk menutupi perasaan ku. Aku gak bisa jujur aku takut saat – saat seperti ini gak akan ku rasakan lagi, jadi lebih baik aku menyembuyikan rasa cinta ini, setidaknya sekarang dengan Zifa dan Kak Fahrul yang menyatu cukup membuat aku bahagia’ jujur batin Liska sambil mengikuti langkah Wahyu yang ada di sampingnya.

                                                                                                                                    END

            Cherry Alaric adalah nama pena yang biasa di pakai Merifa Moliya, seorang Mahasiswi di Universitas Malikussaleh jurusan Ilmu Komunikasi. Merifa Moliya sangat gemar berhayal, dari hayalannya ini Merifa Moliya sudah banyak  menghasilkan cerita. Merifa Moliya mulai menulis cerita saat kelas dua SMP.

Rabu, 11 Januari 2017

Kenapa ?





Suara hati Cherry
            Aku telah berjanji pada diriku akan melupaka segala hal yang berhubungan dengannya, bukan karena aku membencinya tapi kerena aku takut terlalu mencintainya. Dia gak salah aku pun gak salah karena dalam cinta tidak ada yang salang. Jika cinta itu mudah datang kenapa cinta itu sulit untuk pergi? Kenapa cinta tak bisa pergi semudah kita membalikan telapak tangan. Dan kenapa aku harus mencintainya dia yang gak pernah melihatku dia yang gak pernah bisa mengerti perasaan ku dia yang gak bisa melihat senyum tulusku.

            Cherry terus berdialog dengan hatinya saat teman dekatnya Yuna memperlihatkan foto sang pujaan hatinya__ralat mantan pujaan hatinya kerena Cherry telah memutuskan untuk melupakan makhluk menyebalkan yang telah seenaknya masuk kedalam hati Cherry selama ini. Sulit memang untuk Cherry melupakan makhluk yang memiliki nama Irfan itu tapi apa daya takdir memang membuat Cherry harus melupakan dia, jika tidak Cherry akan lebih sakit dari ini.
            Jantung Cherry rasanya berhentik berdetak sejenak saat Yuna menunjukan foto Irfan yang dikelilingi banyak perempuan. Dia ingin marah, meluarkan upatannya tapi Cherry tak akan melakukan itu karena itu akan membuat dia terlihat belum bisa melupakan Irfan. Cherry hanya diam dan tersenyum yang bisa dikatakan terpaksa tersenyum dan terus saja berkutik dengan laptopnya berusaha menyambungkan jaringan wife yang tak mau berkerja sama dengan.
            “kamu serius ingin menutup buku tentang dia”
Deg…
            Jemari-jemari Cherry yang bergerak lincah di kaybord tiba-tiba terhenti, dian ingin menjawab tidak karena hatinya masih sangat mencitai Irfan. Namun, Cherry hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum walau hatinya tidak ikhlas melupakan Irfan. Bagi gadis yang memiliki nama lengkap Cherry Alaric ini Irfan adalah sosok makhluk yang bisa membuat dia jatuh cinta untuk pertama.
            ‘Kak Irfan’ Cherry tersenyum saat nama itu terlintas dibenaknya, dia tersenyum bukan kerena senang dengan nama itu tapi mengingat bagaimana makhluk itu bisa mengacaukan hidupnya.
            “Cherry aku boleh duduk disitue?” pertanyaan Yuna membuat Cherry tersenyum aneh, pasalnya saat ini Cherry tengah mengetik cerita yang berhubungan dengan Irfan ia takut kalau Yuna akan mikir kalau Cherry belum bisa move on dari Irfan, lebih lagi Cherry ingan akan kata-kata ‘move no’ dari Yuna.
            “boleh tapi kamu jangan liat cerita aku ya?” putuskan Cherry dan Yuna tersenyum manis  dan beranjak duduk disamping Cherry, keduanya pun terlihat sibuk dengan urusan masing-masing.

Suara hati Cherry
            Aku memang belum bisa melupakan makhluk yang memiliki nama Irfan Abdullah itu tapi bagaimana pun aku akan membuang rasa cintaku untuknya bukan membuang dia dari hidupku. Aku harus bisa bertindak seperti biasa di depannya tanpa ada sedikitpun rasa cinta lagi. tahun 2017 ini tahun yang mengharuskan aku mohon. Yakin Cherry kamu pasti bisa”
            “lupakan lupakan dan lupakan, selama tinggal rasa cinta ku untuk Irfan Abdullah” gumam Cherry yakin takut kalau Yuna mendengar dan akan mengejeknya.

End


Rabu, 14 Desember 2016

Coffe In Love






                Anjeli Sharma, gadis ceria yang baru saja melepaskan status jomblonya, Anjali sendiri masih merasa kalau ia sedang bermimpi dengan status yang ia sandang sekarang.  Sulit di terima akal sehatnya kalau sekarang ia memiliki status sebagai kekasih dari pelayang tampan yang menjadi idola di restoran tempat ia nongkrong biasanya bersama teman-temannya .
                Anjali dan si pelayan tampan yang memiliki nama lengkap Ferry Rizky ini baru berpacaran selama 4 hari. Setelah hari jadiannya 3 hari yang lalu, Anjeli tidak pernah menunjukkan batang hidungnya di Restoran dan hari ini Anjeli baru muncul kembali di Restoran itu.
                Seperti biasanya Anjeli dan teman-temannya duduk di sudut restoran sambil mengamati gerak gerik Ferry. Tengah asyik mengamati sang kekasih, Anjeli malah di bakar api cemburu saat mendengar -percakapan gadis-gadis yang dekat dengan mejanya. Gadis-gadis yang seusianya itu terus saja membicarakan ketampanan kekasihnya itu. Bahkan salah satu dari mereka mengajak Ferry mengobrol dan ingin lebih dekat dengan Ferry, teman-teman Anjeli yang melihat ekspresinya hanya bisa  menahan tawa.
                “kalau loe suka sama Ferry jujur dong, jangan cemburu tanpa status gitu” bisik salah satu teman Anjeli.
                “mereka memiliki hubungan” komentar Salsa yang tau pasal hubungan Ferry dan Anjeli.
                “hubungan apa?” tanyak ketiga teman mereka penasaran.
                “hubungan pelayan sama pelanggan” beber Anjeli menahan tawa melihat wajah teman-temannya, antar ingin kesal atau terkejut.
                “aish, gue pikir hubungan apa”
                “ya udah gue mau lanjut nguping dulu” bisik Anjeli
                Anjeli kembali melanjutkna aksinya menguping pembicaraan gadis-gadis yang memuja kekasihnya itu. anjeli benar-benar kesal, saat mendengar pembicaraan mereka yang mengarah untuk meminta nomor ponsel kekasihnya. Ingin sekali dia banggun dari duduknya dan mengumumkan kalau Ferry adalah kekasihnya, tapi Anjeli kembali memutar memori otaknya kalau ia sendiri yang meminta untuk merahasiakan hubungan mereka.
                Ferry yang tengah melayani pelanggan diam-diam nampak melirik Anjeli yang sedang di bakar api cemburu itu dia sedikit tersenyum melihat kecemburuan Anjeli. Setelah melayani pelanggannya Ferry berjalan kearah meja Anjeli dan membereskan piring kotor mereka. Dan tanpa yang lain sadari Anjeli dan Ferri bermain mata, Anjeli memasang wajah cemburunya sedangkan Ferry tersenyum manis menaggapinya.
                “uff” Anjeli narik nafas berat, Ferry mengkerutkan keningnya melihat tingkah Anjeli, matanya menanyakan ‘ada apa?’
                “sayang! Aku mau pesan coffe seperti biasa satu lagi” kata Anjeli manja, sontak teman-temannya memutar kepala mereka menghadap dua makhluk itu.
                “Cuma satu?”
                “hmm pakek cinta” kata Anjeli tersenyum manis.
                “ok. Pakek cinta kasih sayang dan tambah satu pelukan” ucap Ferry sambil merentangkan tanggannya.
                Sontak perkataan Ferry dengan volume yang keras itu menarik perhatian pelanggan lain, bahkan gadis-gadis yang tadi mengoda Ferry membulatkan matanya. Sedangkan Anjeli kembali tersenyum menang dengan wajah yang bersemu mereah.
                “tunggu sebantar ya sayang!” sambung Ferry dan berlalu pergi.
                Setelah kepergian Ferry, Anjeli kembali mendapatkan tatapan mengintimidasi dari teman-temannya yang benar-benar penasaran dengan hubungan Ferry dan Anjeli.
                “hubungan kalian lebih dari pelanggan dan pelayan kan?” simpul Rio dan mendapatka anggukan setuju dari kedua teman mereka yang lain.
                “kalian teman dekat? Sahabat? Pacaran? Tunangan atau…”
                “suami istri” potong Anjeli menahan tawa melihat ekspresi kaget Yulia.
                “itu hanya gurowan kan?” tanyak Vela lesu.
                “gimana Sa? Apa itu gurowan?’
                “Mungkin” jawab Salsa santai.
                Suasana meja Anjeli pun menjadi aneh, teman-temannya sibuk dengan penalaran mereka. Untuk saat ini mereka tidak bisa percaya Salsa apalagi Anjeli, mereka harus menyelidiki sendiri hubungan yang sebenarnya. Bahkan Ferry yang baru datang membawa coffe sendikit binggung dengan tingkah teman-teman kekasihnya, lebih lagi tatapan mereka pada dirinya.
                “ini coffe special buat yang special” kata Ferry dengan senyum manisnya.
                “sa….”
                “mas boleh minta tisunya” pinta gadis itu dan berhasil membuat Anjeli kembali memasang wajah cemberutnya.
                “ah iya baik”
                “woi sekalian bilang sama bandnya untuk nyanyi lagu lain” kata Anjeli dengan wajah cemberut, Ferry yang sudah meninggalkan meja Anjeli hanya mengukirkan senyum manisnya.
                “Jel, loe kenapa sih? Sebenarnya hubungan apa sih ini?” tanyak Rio binggung.
                “diam loe!” printah Anjeli ketus, yang membuat nyali mareka ciut hanya Salsa yang tersenyum.
                Sesuai permintaan Ajeli, Ferry naik keatas panggung dan mulai berbicara dengan vokalis band, namun di luar dugaan vokalis band itu malah mengumumkan kalau Ferry yang akan bernyanyi. Semua pengunjung berteriak semangat, kecuali Anjeli yang memasang wajah terkejut.
                “khem, lagu yang akan saya nyanyikan ini saya persembahkan untuk yang special dalam hati saya, dia yang telah mampu merebut separuh hati saya. Maaf sayang tadi aku telah membuat kamu cemburu” kata Ferry tulus dan sekilas melirik Anjeli yang menatapnya.
                “siapa juga yang cemburu” gumam Anjeli.
                “apa? Loe bilang sesuatu?”
                “enggak”
                “sayang berhenti mamasang wajag cemberut, kau makin terlihat mengemaskan kalau seperti itu” kata Ferry tanpa menatap Anjeli, semua pengunjung Restoran khususnya gadis mulai menerka-nerka siapa gadis beruntung itu.
                “gue rasa dia memang telah punya kekasih, dan dia ada ditengah-tengah kita” kata Vela sambil menyenggol Anjeli. Anjeli tersenyum mananggapi perkataan itu.
                “ini untukmu sayang” sambung Ferry dan alunan music dari band pengiring mulai mengalun di restoran itu.
‘kan ku utarakan kepadamu  Semua yang ada di hatiku
 Aku mencintai kamu  Dengarkan janjiku
Kan ku sayangi kau sampai akhir dunia Dan kujadikan kamu wanita
Paling bahagia di seluruh dunia Karena kamulah satu-satunya
Jadi terimalah oh cintaku  Jangan kau patahkan hatiku
 Aku mencintai kamu  Dengarkan janjiku
Kan ku sayangi kau sampai akhir dunia Dan kujadikan kamu wanita
Paling bahagia di seluruh dunia Karena kamulah satu-satunya
Kan ku sayangi kau sampai akhir dunia Dan kujadikan kamu wanita
 Paling bahagia di seluruh duniaKarena kamulah satu-satunya’
                Anjeli menatap penuh cinta Ferry yang bernyanyi untuknya itu, bahkan dia tidak peduli dengan pandangan orang-orang yang ia tau saat ini dia sangat mencinta Ferry Rizky. Tak jauh beda dengan Anjeli Ferry juga menatap Anjeli penuh cinta, dan sempat beberapa kali dia tersenyum manis pada Anjeli. Sebuah senyum penuh cinta yang hanya ia tunjukan pada kekasih hatinya itu, sebuah senyum yang bisa menghilangkan rasa cemburu, amarah bahkan rasa lelah Anjeli.
                ‘maaf telah meragukan mu sayang, seharusnya tadi kau sebutkan saja namaku jangan lagi menjaga permintaan bodohku. Namun, itu semua juga gak jadi masalah jika kau terus menatapku seperti ini, aku ingin agar mereka semua tau kalau aku milikmu dan kamu milik ku. I love you kekasih ku’ ucap batin Anjeli dengan senyum yang selalu merekah.